Oleh: KHOIRUL ANAM
"Tiada seorang nabi pun
kecuali ia diberi mukjizat yang dapat mengantarkan manusia beriman
kepadanya." (HR. Bukhari).
Dalam khazanah tarih Islam kita
ketahui bahwa rasul-rasul sebelum Muhammad saw dibekali mukjizat oleh Allah
swt. berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau, membelalakkan mata dan irasional.
Nabi Musa as. dibekali mukjizat tongkat yang bisa berubah menjadi ular raksasa.
Nabi Isa as. dibekali mukjizat berupa kemampuan menyembuhkan orang buta, orang
berpenyakit lepra dan bahkan --dengan izin Allah swt-- dapat menghidupkan orang
yang telah mati. Sedangkan Nabi Muhammad saw dibekali dengan mukjizat yang
aqliyah, rasional dan menantang seluruh kemampuan akal manusia. Mukjizat itu
adalah al-qur'an al-karim.
Bila kita pertelakan
pendapat-pendapat tentang al-qur'an, maka akan kita dapati paling kurang tiga
pendapat (An-Nabhani dalam Nidzamul Islam). Pertama, menyatakan bahwa al-qur'an
itu gubahan orang Arab. Kedua, menyatakan bahwa al-qur'an itu karangan Muhammad
dengan menyadur dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Ketiga, menyakan
bahwa al-qur'an adalah wahyu yang berasal dari Allah swt. semata-mata.
Pendapat pertama, yaitu bahwa
al-qur'an gubahan orang Arab, tertolak secara akal. Al-qur'an telah menantang orang-orang Arab
dan siapa pun (termasuk bangsa jin) untuk membuat karya gubahan semisal
al-qur'an dengan tiga tahapan; menyusun lengkap yang semisal al-qur'an (QS.
Al-Isra' [17] : 88), menyusun sepuluh surah saja yang semisal al-qur'an (QS.
Hud [11] : 13-14), atau menyusun satu surah saja semisal al-qur'an (QS. Yunus [10]
: 38 dan QS. Al-Baqarah [2] : 23). Ternyata mereka tidak pernah mampu, karena
memang tidak akan pernah mampu.
Selain itu kita juga melihat
bahwa al-qur'an memuat hukum-hukum yang sangat bertentangan praktik hukum yang
dilakukan oleh bangsa Arab ketika itu. Padahal saat itu bangsa Arab dikenal
sebagai bangsa jahili, pembunuh yang biadab, pemabok, penzina dan bertumpuk
keburukan yang lain, sedangkan al-qur'an mengajarkan yang sebaliknya. Secara
akal, al-qur'an tak mungkin disusun oleh orang Arab. Karena seandainya
al-qur'an itu gubahan orang arab, tentu hukum yang diterakan dalam al-qur'an
adalah hukum yang membenarkan dan menguntungkan kebiasaan-kebiasaan mereka.
Pendapat kedua, bahwa al-qur'an
itu merupakan karya Muhammad --sebagaimana dituduhkan oleh sebagian
orientalis-- tidaklah dapat diterima oleh akal sehat manusia. Pada pendapat
pertama telah dibuktikan bahwa seluruh bangsa Arab dan bahkan seluruh manusia
dan jin, telah tidak mampu menghasilkan karya yang serupa al-qur'an. Termasuk
pula muhammad. Ia adalah manusia dan juga berasal dari kalangan orang Arab.
Maka mustahil pula ia mampu menyusun karya serupa al-qur'an. Terlebih bila
dikatakan bahwa al-qur'an yang berbahasa Arab itu disadur Muhammad dari seorang nasrani non Arab yang diragukan
kemampuan bahasa Arabnya.
Setelah kita membuktikan
bahwa al-qur'an bukanlah karangan
orang-orang Arab, bukan pula gubahan Muhammad, maka adalah rasional pendapat
yang menyatakan bahwa al-qur'an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah swt
sebagai kalamullah sekaligus mukjizat bagi orang yang mengembannya. Inilah
keimanan kita yang rasional bahwa Al-qur'an diturunkan oleh Allah SWT. untuk
dijadikan pedoman kehidupan bagi seluruh
umat manusia.
Wallahu a'lam bish shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon