Sabtu, 29 April 2017

Penelitian Hadits Tentang Bay'at Kepada Seorang Khalifah

PEMBAHASAN

A.    Hadits Tentang Kewajiban Bay’at
Pelacakan hadits dilakukan melalui kata-kata isim dan fi’il yang ada di awal matan hadits, akhirnya melalui kitab الجامع الصغير في أحاديث النذير البشير dimana hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah di beberapa kitab dengan kode yaitu [ق] singkatan dari muttafaq ‘alaihi [متفق عليه], artinya diriwayatkan Bukhari & Muslim, [حم]: Ahmad dalam Musnad dan [هـ]: Sunan Ibnu Majah.[1]
Kemudian penulis melakukan penelusuran ke kitab masing-masing untuk melengkapi penulisan hadits tersebut, sekaligus melakukan takhrij untuk memastikan keshahihannya. Dan pada penelitian ini penulis mencantumkan hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari melalui penelusuran kitab Fathul Bari’ Syrah Shahih Bukhari.[2]
حدثني محمد بن بشار: حدثنا محمد بن جعفر: حدثنا شعبة، عن فرات القزاز قال: سمعت أبا حازم قال:قاعدت أبا هريرة خمس سنين، فسمعته يحدث عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ).
Terjemahan:
“Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.”[3]
B.     Jalur Sanad Hadits

Abu Hurairah

Salman Maulah Izzah

Muhammad bin Ja’far

Syu’bah bin al-Hajjaj bin al-Warad

Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman

Furrah bin ‘Abdur Rahman



C.    Biografi Periwayat Hadits
Abu Hurairah (w. 58 H )
Nama lengkapnya Abu Hurairah ad-Dusi al-Yamani, seorang sahabat Rasulullah SAW, seorang hafidh, dan sahabat yang paling banyak dalam meriwayatkan hadits Nabi SAW, yang tercatat sekitar 5374 hadits. Para ulama’ banyak yang berselisih mengenai tentang nama aslinya dan nama ayahnya.[4] Namun diantara perselihan tersebut yang paling masyhur ialah nama ‘Abdur Rahman bin Sakhr,[5] dan mengenai nama jahiliyahnya ialah Abdu Syams.[6] Nama kunyahnya adalah Abu al-Aswad, Rasulullah menyebutnya ‘Abdullah dan menjulukinya Abu Hurairah karena beliau suka membawa anak kucing (Hurroh) kemana-mana. Dikatakan nama ibunya adalah Maimunah binti Sakhr.[7] Beliau termasuk golongan sahabat Ahlu Shuffah.[8] Menurut Imam Bukhari, beliau wafat pada tahun 58 H, namun ada juga yang mengatakan beliau wafat pada tahun 59 H,[9] dan ada yang 57 H di Madinah.[10]
Abu Hurairah meriwayatkan hadits atau berguru langsung kepada Nabi SAW, selain itu, ia juga meriwayatkan hadits atau berguru kepada sahabat-sahabat yang lain, seperti : Abu Bakar, ’Umar, al-Fadl bin ’Abbas bin ’Abdul Muthallib, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ’Aisyah, Nadlroh bin Abi Nadlroh al-Ghifari, dan Ka’ab al-Akhbar.[11] Imam Bukhari berkata mengenai Abu Hurairah: --"Ada delapan ratus orang atau lebih (dari shahabat tabi'in dan ahli ilmu) yang meriwayatkan Hadits darinya"
Abu Nadlrah al-’Abdi dari at-Thafawi berkata: Saya tinggal dengan Abu Hurairah di Madinah selama 6 bulan, maka aku tidak mendapati seorang laki-laki dari kalangan sahabat Rasulullah SAW yang lebih arif/waspada dari pada Abu Hurairah dan aku juga tak mendapati kelemahan(ingatan) darinya; dan Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: -- "la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits sesamanya".[12] 
Oleh karena itu, ada banyak murid yang belajar atau meriwayatkan hadis darinya , diantaranya: Abu Muslim, Sa’id Ibnul Musayyab, Hafs Ibn ’Ashim, Hamid Ibn ’Abdir Rahman az-Zuhri, Khalas Ibn ’Amr, Salim Abul Ghaits, Abu Hazim Salman al-Asyja’iyy, Sulaiman Ibn Yasar, Ikrimah, ’Urwah, ’Atho’, Mujahid Ibn Sirin dan lain sebagainya.[13]
Abu Hazim (w. 101 H)
Nama aslinya adalah Salman al-Asyja’iyy al-Kufi, nama kunyahnya adalah Abu Hazim, sedangkan nama laqobnya adalah Shahib (teman) Abi Hurairah, namun beliau lebih terkenal dengan nama Salman Maula ’Izzah.[14] Beliau bermukim di Madinah dan Kufah, dan termasuk pertengahan dari kalangan tabi’in. Beliau meninggal pada tahun 101 H,[15] atau bertepatan pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul ’Aziz.
Beliau belajar atau meriwayatkan hadits dari: Hasan bin ’Ali bin Abi Thalib, Husain bin ’Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin ’Ash, ’Abdullah bin Zubeir, ’Abdullah bin ’Umar bin Khattab, Abu Hurairah (belajar kepadanya selama 5 tahun) dan lain sebagainya. Adapun murid-muridnya antara lain Salim bin Abi Hafshah, Abu Malik Sa’d bin Thariq al-Asyja’iyy, Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Sulaiman al-A’masyi, Harun bin Sa’d dan lain sebagainya.[16]
Furrah ibn Abdur Rahman
Nama lengkapnya adalah Furrah ibn Abi Abdur Rahman Al-Qazzaz atau dikenal dengan nama Abu Muhammad.
Guru-guru beliau yaitu Abu Thufail, Abu Hazim Salman al-Asyja’iyy al-Kufi, Said ibn Jubair, Abdur Rahman ibn Aswad ibn Yazid, dan Abdullah ibn Qibthiyat.
Sedangkan murid-murid beliau diataranya Syu’bah bin Hajjaj, Hasan ibn Furat, Ziyat ibn Hasan ibn Furrat, Mas’ud, ‘Umar ibn Qayis, Umar ibn Abi Qayis ar-Razi, Syarik, Abu Al-Haushi.[17]
Syu’bah bin Hajjaj (w. 160 H)
Nama lengkap beliau Syu’bah bin Hajjaj bin warad Al Ataky, Abu Busthomi Al Wasathi, Ubadah bin Al-Araghi, Yazid bin Mahla. Lahir Pada tahun 82 H dan wafat pada tahun 160 H di Bashroh adalah seorang tabi'in, ulama dan syaikh yang berasal dari Basra. Beliau dinilai memiliki tingkat kepercayaan yang paling tinggi yaitu Amir al-Mu’minin al-Hadits (Pemimpin orang-orang beriman di bidang hadits) khususnya di Bashrah. Sehingga beliau diposisikan paling tinggi dari pada Al-‘Amasyi dan Sufyan Ats-Tsauri.[18]
Adapun Guru-Gurunya: Aban bin Tughlab, Ibrahim bin Amir bin Mas’ud Al Jamahi, Ibrahim bin Muslim Al-hajari, Ibrahim bin Muhajir, Ibrahim bin Maisarah, Abi Ishaq, Hatim bin Abi Shaghirah, Ismail bin Sami’, Al Aswad bin Qois, Asy’ats bin Suwar, Habib bin Abi Tsabit, Habib bin Zubair, Mansur bin zadan, Muhajir Abi Hasan, Musa bin Abi Aisyah, Musa Bin Abi Utsman, Nu’man bin Salim,
Adapun Murid Murid beliau: Muhammad bin Ishaq bin Yasar, Muhammad bin Bakr, Al Barsani, Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar, Muhammad bin Abdullah al Anshori, Muslim bin Ibrahim, Walid bin Nafi’, Yahya bin Abi Bakr, Wahab bin Jarir bin Hazim, Waqi’ bin Jarah, Musa bin Fadhil, Nadhar bin Syamil, Abu Khalid Al-Akhmari, Yazid bin Harun.
Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar (w. 294 H)
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ja’far al-Huzli atau Abu Abdullah al-Bashir Al Ghandar dan sebagian memanggilnya Abu Ja’far. Beliau wafat pada tahun 294 H.
Guru –guru beliau adalah Abdullah ibn Sa’id ibn Abi Hindi, Syu’bah bin Hajjaj, Auf al-A’rabi, Ma’mar bin Rasyid, Sa’id bin ‘Arubah, Husain al-Mu’allama, Ibnu Juraih, Hisyam bin Hasan, ‘Ustman bin Giyants ats-Tsauri, Ibnu ‘Uyainah.
Adapun murid-murid beliau diantaranya Ahmad bin Hambal, Ishaq, Yahya bin Mu’in, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr, ‘Utsman bin Abi Syaibah, Qutaibah, Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ur’urah, Abu Bakar bin Khallad, Ya’qub ad-Dauraqi, Muhammad bin Ziyad, Abu Musa, Abu Bakar bin Nafi’ al-‘Abdi, ‘Abdullah al-Qawariri, Muhammad bin Walid al-Bundar, Bundar (Muhammad ibn Basyar ibn Utsman Al A’bdi, Abu bakar al-Hafidz al-Bashri Bundar), Muhammad bin ‘Umar bin Jabal, Bashri bin Khalid, Al-‘Askari, Ahmad bin Abdullah bin Hakim, ‘Uqbah, ‘Abdullah bin Muhammad bin Al-Miswar Az-Zuhri.[19]
Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman (w. 252 H)
Nama lengkap: Muhammad ibn Basyar ibn Utsman Al A’bdi, Abu bakar al-Hafidz al-Bashri Bundar. Beliau lahir pada tahun 167 H dan wafat pada tahun 252 H.[20] Beliau dilahirkan pada tahun dimana Himad bin Salamah wafat, yaitu pada tahun 67 Hijriyah. Dan beliau wafat pada bulan Rajab, tahun ke 252 Hijriyah.[21]
Guru-guru beliau diantaranya Ibrahim ibn Umar ibn Abi Al Wazir, Azhar ibn Sa’ad Al Saman, Umayah ibn Kholid, Badal ibn Mukhbar,Ja’far ibn Aun, Hijaj ibn Mihal, Muhammad ibn Ja’far Al Ghandar, Harmi ibn Umarah, Kholid ibn Al Harits.[22]
Adapun murid-murid beliau diantaranya Bukhori, Muslim, Abu Daud, tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibrahim ibn Ishaq, Ismail ibn Nufail Al Baghdadi Al Khilal, Ja’far ibn Ahmad As Syamati, Zakaria ibn Yahya As Saj’I.[23]

D.    Komentar Ulama

Abu Hazim
Adapun penilaian ulama terhadapnya antara lain: Imam Ahmad, Ibn Ma’in dan Abi Daud: Tsiqah; Ibn Hibban memasukkanya dalam golongan rawi yang tsiqah dalam kitabnya "Ats-Tsiqat"; Ibn Sa’d: Tsiqah, dan menganggap hadits-haditnya baik.[24]
Furrah ibn Abdur Rahman
Mengenai penilain Ulama terhadapnya Abu Hatim berkata hadits-haditsyang diriwayatkan Shahih, Ibnu Hibban memasukkan dalam kitabnya at-Tsiqah, Sufyan berkomentar bahwa beliau tsiqah.
Syu’bah bin Hajjaj (w. 160 H)
Adapun komentar para ulama terhadapnya tidak diragukan lagi misalkan, Ibnu Hajar mengatakan beliau tsiqoh, Hafidz, dan bertaqwa. At-Tsauri berkata dia seorang Amir al-Mu’minin al-Hadits (Pemimpin orang-orang beriman di bidang hadits),Menurut Dhahabi: Amirul mukminin di bidang Hadits, Tsabit Hujjah, dan sedikit salah di namanya.[25] Begitu banyak sanjungan para Ulama terhadapnya sehingga penulis hanya mencantumkan sebagian saja.
Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar
Mengenai keredibilitas rawi ini Ibnu Hibban memasukkannya sebagai rawi yang tsiqah dalam kitabnya at-Tsiqah.[26]


Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman (w. 252 H)
Dalam kitab Maghaniy al-Akhyar, dikatakan bahwa ia perawi yang tsiqah. Ibnu ‘Ajaly berkata:” Ia tsiqah, banyak hadits yang diriwatkannya.[27] Menurut Maslamah bin Qasim ia tsiqah, dan  menurut al-Daraquthni ia adalah al-hafidh al-atsbat.[28]
E.     Takhrij Hadits
Dalam kutub tis’ah mengenai hadis di atas dapat ditakhrij sebagai berikut;
a.       Dalam Shahih Bukhari terdapat pada kitab Ahadits al-Anbiyah (Hadits-Hadits yang meriwayatkan tentang para Nabi), bab Bani Israil nomor 3400.[29]
b.      Dalam shahih Muslim terdapat pada, kitab Al-Imarah (Kepemimpinan) bab Wujuba al-Wafaau Bay’at al-Khilafah al-Awalan (Wajibnya  memenuhi isi bay’at), hadits nomor 1842.[30]
c.       Dalam Ibnu Majah terdapat dalam kitab al-Jihad (Jihad) bab al-Wafaau al-Bay’at, (Wajibnya  memenuhi isi bay’at),. nomor hadits 2862.[31]
d.      Dalam Musnad Ahmad terdapat dalam kitab Musnad Sahabat yang banyak meriwayatkan hadits, bab Musnad Abu Hurairah Radhiallahu‘anhu nomor hadits 7619.[32]
e.       Hadis ini juga diriwayatkan di dalam Shahih Ibn Hibban; Musnad Abi ‘Awanah; Sunan al-Kubra al-Bayhaqi; Mushannaf Ibn Abi Syaybah; Musnad Ishhaq Ibn Rahawayh; Musnad Abi Ya’la al-Mûshili; Musnad li al-Khalal oleh Abu Bakar al-Khalal; dan di dalam as-Sunah li Ibn Abi ‘Ashim.[33]
F.     Syarah Matan Hadits
Kata tasûsu berasal dari sâsa-yasûsu-siyâsah. Menurut Ibn Manzhur dalam Lisân al-‘Arab, sâsa al-amr siyâsah bermakna: qâma bihi (melaksanakan amanah). Menurut As-Suyuthi, Abdul Ghani dan Fakhr al-Hasan ad-Dahlawi dalam Syarh Sunan Ibn Mâjah, as-siyâsah adalah riyâsah wa ta’dîb ‘alâ ar-ra’iyah (kepemimpinan dan pendidikan terhadap rakyat). Secara bahasa, siyâsah maknanya ra’â syu’ûnahu (memelihara urusan-urusannya). Dengan demikian as-siyâsah (politik) maknanya ri’âyah syu’ûn al-ummah (pengaturan dan pemeliharaan urusan-urusan umat).
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ
Kanat banû isrâ‘îla tasûsuhum al-anbiyâ’. Menurut Ibn Hajar al-‘Ashqalani di dalam Fath al-Bari, frasa ini bermakna, “Jika tampak di tengah mereka kerusakan, Allah SWT mengutus seorag nabi yang meluruskan dan mengatur urusan mereka dan menghilangkan hukum Taurat yang telah mereka ubah. Didalamnya ada isyarat bahwa harus ada orang yang mengurusi urusan-urusan rakyat, membimbing mereka pada kebaikan dan memberikan keadilan kepada orang yang dizalimi dari orang yang zalim.”[34]
Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim, makna frasa itu adalah bahwa para nabi mengurusi urusan mereka seperti yang dilakukan oleh para amir dan wali terhadap rakyat. As-Siyâsah (politik) adalah mengatur sesuatu dengan apa yang membuat sesuatu itu menjadi baik.[35]
Nabi saw. juga menjalankan peran politik ri’ayah asy-syu’un, yaitu memelihara dan mengatur urusan-urusan umat sebagaimana nabi-nabi Bani Israel. Bahkan Nabi saw. termasuk di antara sedikit nabi yang diistimewakan. Ini karena selain menjabat kenabian, beliau pun menjadi penguasa yang melakukan ri’ayah asy-syu’un secara praktis.
وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي
Wa innahu lâ nabiyya ba’di. Ini menegaskan bahwa kenabian sudah diputus oleh Allah SWT. Rasul saw merupakan penutup para nabi. Karena itu, siapa saja yang mengklaim kenabian dalam bentuk apapun adalah pendusta.
Karena tidak ada nabi sesudah beliau, muncul pertanyaan, “Lalu siapa yang memelihara urusan umat?” Pertanyaan itu juga ditanyakan oleh para Sahabat. Dalam riwayat Abu ‘Awanah dalam Musnad-nya, Ibn Majah dalam Sunan-nya dan Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, para Sahabat bertanya, “fa mâ yakûnu yâ Rasûlallâh (Apa yang akan ada, ya Rasulullah)?” Jawab Rasul saw., “wa sayakûnu khulafâ’u fa yaktsurûn.”[36]
Jadi, Rasul saw. telah menjelaskan bahwa yang akan memelihara dan mengatur urusan kaum Muslim sepeninggal Rasul adalah para khalifah yang terus berganti hingga jumlahnya banyak.
Syaik Abdul Qadim Zallum di dalam Afkâr Siyâsiyah menjelaskan, “Mafhum sabda Nabi saw. itu, bahwa selain amir bukanlah penguasa dan bahwa selain khalifah tidak boleh menjalankan peran politik secara praktis terhadap rakyat. Hadis ini adalah dalil bahwa pengaturan dan pemeliharaan (siyâsah/ri’âyah syu’ûn) rakyat secara praktis hanyalah wewenang penguasa dan bukan selain penguasa. Ini adalah salah satu dalil—selain dalil-dalil lainnya—atas pembatasan kekuasaan dan ri’ayah rakyat hanya oleh penguasa, yaitu khalifah dan orang yang mewakili dia, atau amir dan orang yang mewakili dia. As-Sulthân adalah ri’âyah syu’ûn secara mengikat dan memaksa. Artinya, pelaksanaan tanggung-jawab penguasa hanya oleh penguasa. Siapapun selain penguasa tidak boleh melaksanakan tugas ini. Pasalya, syariah telah memberikan hak itu hanya kepada Khalifah dan orang yang mewakili dia. Orang lain—siapapun dia—yang melakukan tugas penguasa dan ri’âyah syu’ûn terhadap rakyat—adalah menyalahi syariah sehingga batil. Setiap tindakan batil adalah haram. Jadi selain Khalifah dan orang yang ditunjuk Khalifah, yakni selain penguasa, tidak boleh (haram) melakukan aktivitas pemerintahan dan kekuasaan serta ri’âyah syu’ûn secara mengikat dan memaksa.”[37]
فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ
Fû bibay’ati al-awwal fa al-awwal. Imam an-Nawawi menjelaskan, maknanya adalah “Jika dibaiat seorang khalifah setelah pembaitan khalifah sebelumnya, maka baiat pertama adalah sahih dan wajib dipenuhi, sedangkan baiat kedua adalah batil dan haram dipenuhi; haram pula menuntut khilafah itu, baik diakadkan untuk yang kedua oleh mereka yang mengetahui baiat yang pertama ataupun tidak tahu; baik di dua negeri atau di satu negeri, atau yang satu di negeri imam yang terpisah dan yang lain di negeri lainnya. Inilah yang benar, yang menjadi pendapat ashhab kami dan jumhur ulama.”[38]
Jadi, khalifah itu harus satu dan haram lebih dari satu. Bahkan dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan: “fa [u]qtulû al-âkhira minhumâ (maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya).”
أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ
A’thûhum haqqahum, yakni taati mereka dan bergaul dengan mereka dengan mendengar dan taat, karena Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang mereka lakukan terhadap kalian, tentu selama tidak memerintahkan kemaksiatan. Dalam hal ini ada rincian di dalam syariah.[39]
G.    Kualitas Sanad
Sanad Hadis Imam Muslim di atas adalah: Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman, Muhammad bin Ja’far, Syu’bah bin al-Hajjaj, Furrah bin ‘Abdur Rahman, Salman Maulah Izzah dan Abdur Rahman bin Shakhar. Maka semua sanad itu dikatakan muttasil (Bersambung) dalam hubungan guru dan murid dan seluruh rawinya yaitu dari Abdur Rahman bin Shakhar sampai kepada Mukharrij (Bukhari dan Muslim) merupakan rawi yang tsiqah. Hadis ini juga tidak bertentangan dengan hadis lain yang lebih kuat (syadz) dan tidak dijumpai adanya ‘illat.
Jadi, penulis menyimpulkan bahwa kualitas sanad hadis tersebut ialah sahih dan tergolong hadits muttafaq ‘alaihi [متفق عليه], artinya diriwayatkan Bukhari & Muslim.
H.    Kualitas Matan
Penelitian matan hadis telah dirintis pada masa Nabi saw dan para sahabatnya. M.M Azami mensinyalir bahwa penelitian hadis sejak awal sampai sekarang menggunakan dua metode, yakni metode muqaranah dan mu‘aradhah. Muqaranah adalah metode perbandingan antar riwayat hadis yang sama, sedangkan mu‘aradhah adalah perbandingan riwayat hadis dengan dalil yang lain.[40]
Dalam melakukan penelitian hadis tidak terlepas dari kaidah-kaidah penelitian. Kaidah kesahihan matan ada dua yaitu: terhindar dari syuz}uz}dan terhindar dari ‘illah, kaidah ini merupakan manifestasi dari dua metode yang disebutkan di atas.[41]
Mengenai kualitas matan dari hadis tersebut dinilai shahih atau bisa dijadikan patokan karena sudah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, secara umum kedua kitab ini dinilai sebagai kitab tershahih setelah al-Qur’an.




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Dari uraian diatas penelitian sanad dan matan hadis tentang kewajiban bay’at dimana setelah Penulis melakukan takhrij, terdapat di beberapa kitab – kitab dalam kutub tis’ah  yaitu; Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah dan Musnad bin Hambal, sehingga dapat dikatan bahwa hadits tersebut tergolong hadits ahad (sejauh penelitian penulis terhadap kutub tis’ah)., dan masuk sebagai hadits mutafaqun ‘alaih yaitu hadits yang disepakati Bukhari-Muslim.
Sedangkan pada kualitas sanad dan matan hadis diatas dinilai hadits shahih berdasarkan urutan-urutan sanadnya yang bersambung (muttasil) dan periwayat hadis tersebut adalah Bukhari dan Muslim karena secara umum kedua periwayat ini kitab nya adalah dinilai sebagai kitab tershahih setelah al-Qur’an.
B.     Saran
Setelah penulis melakukan penelitian hadits tersebut, hal ini tentu menjadi kesyukuran penulis karna telah menyelesaikan amanah yang dibebankan selaku kewajiban penulis sebagai mahasiswa atau murid. Dari penelitian tersebut penulis banyak mendapatkan kesulitan-kesulitan, termasuk di dalamnya memahami kitab-kitab hadits yang berbahasa arab, karna keterbatasan kemampuan membaca kitab yang berbahasa arab. Namun atas usaha dan keistiqamahan akhirnya penelitian tersebut selesai dan memuaskan. Adapun pembaca yang budiman menemukan kesalahan dalam penelitian tersebut, tentu adalah bukti ketidaksempurnaan penulis selaku manusia, dan sebagai harapan semoga itu bisa menyempurnakan pembahasan di dalamnya.




DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqalani, Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz VIII, Birut: Darul Fikr, 2002
Al-‘Asqolani, Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar, Tahdzibut Tahdzib Juz II, Bairut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
-----------------------------------------, Tahdzibut Tahdzib, Juz III Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
-----------------------------------------, Tahzibu at-Tahzib, Juz VI, Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
Al-Syuthi, Jala al-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakr, Al-Jami’ Al-Shaghir fi Ahadits al-Basyir wa al-Nadzir, Bairut; Al-Islamiyyah: 3771 H
Al-Khalildi, Mahmud ‘Abd Al-Majid, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, yang terjemahkan oleh Harits Abu Ulya,Pilar-Pilar Sistem Pemerintahan Islam, Cet. I; Bogor: Al-Azhar Press, 2014
An-Nawawi, Al Imam Al Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I, Syarah Shahih Muslim, Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001
Amin, Phil. H. Kamaruddin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits, Cet. I; PT. Mizan Publik: Jakarta Selatan, 2009
Al-Qazwaini Ibnu Majah, Abu Adillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 1417 H
Hanbal, Ahmad bin Muhammad bin, Musnad bin Hambal, Dar Fikr; Baerut, t.t.
Juynboll, G. H. A., Tiori Common Link, Cet. I; LKIS Yogyakarta: Yogyakarta, 2007
Rajab, Kaidah Kesahihan Matan Hadis, Cet. I; Yogyakarta: Grha Guru, 2011
Software Mausu’ah al-Hadits al-Syarif  versi 2,00  (Global Islamic Software Company, 1991-1997)
Software Gwami’ El Kalem versi 4.5, edisi II, UEA: Awqaf, t.th
Software Mausu’ah al-Hadits al-Syarif  versi 2,00  Global Islamic Software Company, 1991-1997
Zallum, Abdul Qadim, Pemikiran-Pemikiran Politik, Cet. I; Pustaka Thariqul Izzah, 2001
Internet
http://pustakaimamsyafii.com-biografi-abu-hurairah-ra-html. Dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkirotul Huffadh, Juz I (tk: Dar al-Shomi’i), h.. 32.
http://madciel.blogspot.co.id contoh penelitian rijal al-hadits, dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadh. Juz I., op.cit., h. 32.
https://fahadiel.wordpress.com,analisis-para-perawi-hadits diakses pada tanggal 24/4/2017 dikutip dalam kitab Maghoniyul Akyar Juz III h. 551, dan Kitab Tahdzib al-Tahdzib, Juz IX pada Biografi Muhammad bin Mutsanna.





[1] Jala al-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakr al-Syuthi, Al-Jami’ Al-Shaghir fi Ahadits al-Basyir wa al-Nadzir, (Bairut; Al-Islamiyyah: 3771), h. 824
[2] Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz VIII, (Birut: Darul Fikr, 2002), h. 93
[3] Mahmud ‘Abd Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, yang terjemahkan oleh Harits Abu Ulya,Pilar-Pilar Sistem Pemerintahan Islam, (Cet. I; Bogor: Al-Azhar Press, 2014), h. 158
[4] Ibn Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib (tk: Muassasah at-Tarikh al-‘Arabi), juz 6, hlm., 508.
[5] Mahmud ‘Abd Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, op.cit.h. 158
[6] http://pustakaimamsyafii.com, Biografi Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkirotul Huffadh, Juz I (tk: Dar al-Shomi’i), h.. 32.
[7] Ibn Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib.juz 6, op.cit., h. 508.
[8] http://pustakaimamsyafii.com, Biografi Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Ibnul Atsir al-Hizri, Asdul Ghabah (tk: Dar al-Ma’rifah, 1997), juz. 5, h. 119.
[9]  http://pustakaimamsyafii.com, Biografi Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Ibn Abi Hatim ar-Razi, At-Ta’dil wat- Tajrih (tk: Dar al-Fikr), juz. 1. h. 664.
[10] Software Mausu’ah al-Hadits al-Syarif  versi 2,00  (Global Islamic Software Company, 1991-1997)
[11] Ibn Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib, juz 6, op.cit., h. 508.
[12] Muhammad bin Thahir bin al-Qaisaroni, Tadzkiratul Huffadh (Riyadl: Dar al-Shami’I, 1415 H), juz 1, hlm. 33, 35 dan 36.
[13] http://madciel.blogspot.co.id, contoh penelitian rijal al-hadits, dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadh. Juz I., op.cit., h. 32.
[14] Software Gwami’ El Kalem versi 4.5, edisi II, (UEA: Awqaf, t.th)
[15] Software Mausu’ah al-Hadits al-Syarif  versi 2,00  (Global Islamic Software Company, 1991-1997)
[16] http://madciel.blogspot.co.id, contoh penelitian rijal al-hadits, di akses pada tanggal 3/2/17, yang dikutip dalam kitab Abu al-Hajjaj, Tahdzibul Kamal (tk: Dar al-Fikr), juz 7, hlm. 60.
[17] Ibn Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib, juz III (tk: Muassasah at-Tarikh al-‘Arabi), h. 372
[18] Phil. H. Kamaruddin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits, (Cet. I; PT. Mizan Publik: Jakarta Selatan, 2009), h. 127
[19] Al-Hafiz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, (Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994), h. 531
[20] Al-hafiz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, (Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994), hlm. 519
[21] Maghaniyul Akhyar Juz III/Hal. 539
[22] Ibid.,
[23] Ibid.,
[24] Ibn Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib, juz II (tk: Muassasah at-Tarikh al-‘Arabi), h. 433.
[25] G. H. A. Juynboll, Tiori Common Link, (Cet. I; LKIS Yogyakarta: Yogyakarta, 2007), h. 193
[26] Al-Hafiz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III,op.cit. h. 519
[27] https://fahadiel.wordpress.com,analisis-para-perawi-hadits, diakses pada tanggal 24/4/2017 dikutip dalam kitab Maghoniyul Akyar Juz III h. 551, dan Kitab Tahdzib al-Tahdzib, Juz IX pada Biografi Muhammad bin Mutsanna.
[28] Al-Hafiz Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, op.cit. h. 531
[29] Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz VIII, (Birut: Darul Fikr, 2002), h. 93
[30] Al Imam Al Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001), h. 1193
[31] Abu Adillah Muhammad bin Yazid al-Qazwaini, Sunan Ibnu Majah, (Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 1417 H), h. 485
[32] Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad bin Hambal, (Dar Fikr; Baerut, t.t.), h. 594
[33] Mahmud ‘Abd Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam,op.cit, h. 159
[34] Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz VIII,op.cit., h. 97
[35] Al Imam Al Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I an-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001), h. 1193
[37] Abdul Qadim Zallum, Pemikiran-Pemikiran Politik, (Cet. I; Pustaka Thariqul Izzah, 2001), h. 34
[38] Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz VIII,op.cit.,
[39] Ibid.,
                [40]Rajab, Kaidah Kesahihan Matan Hadis, (Cet. I; Yogyakarta: Grha Guru, 2011), h. 97-98.
                [41]Ibid., h. 99.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon

Penelitian Hadits Tentang Bay'at Kepada Seorang Khalifah

PEMBAHASAN A.     Hadits Tentang Kewajiban Bay’at Pelacakan hadits dilakukan melalui kata-kata isim dan fi’il yang ada di awal mata...