PEMBAHASAN
A.
Hadits Tentang Kewajiban
Bay’at
Pelacakan
hadits dilakukan melalui kata-kata isim dan fi’il yang ada di
awal matan hadits, akhirnya melalui kitab الجامع الصغير في أحاديث
النذير البشير dimana hadits
tersebut diriwayatkan oleh Abu Hurairah di beberapa kitab dengan kode yaitu [ق] singkatan dari muttafaq
‘alaihi [متفق عليه], artinya
diriwayatkan Bukhari & Muslim, [حم]:
Ahmad dalam Musnad dan [هـ]: Sunan Ibnu Majah.[1]
Kemudian penulis melakukan penelusuran ke kitab
masing-masing untuk melengkapi penulisan hadits tersebut, sekaligus melakukan takhrij
untuk memastikan keshahihannya. Dan pada penelitian ini penulis
mencantumkan hadits yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari melalui
penelusuran kitab Fathul Bari’ Syrah Shahih Bukhari.[2]
حدثني
محمد بن بشار: حدثنا محمد بن جعفر: حدثنا شعبة، عن فرات القزاز قال: سمعت أبا حازم
قال:قاعدت أبا هريرة خمس سنين، فسمعته يحدث عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ
اْلأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ
بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ
فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ
سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ).
Terjemahan:
“Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang
nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi
sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para
Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi
bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada
mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka
atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.”[3]
B.
Jalur Sanad
Hadits
|
Abu Hurairah
|
|
Salman Maulah Izzah
|
|
Muhammad bin Ja’far
|
|
Syu’bah bin al-Hajjaj bin
al-Warad
|
|
Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman
|
|
Furrah bin ‘Abdur Rahman
|
C. Biografi Periwayat
Hadits
Abu Hurairah (w. 58 H )
Nama lengkapnya
Abu Hurairah ad-Dusi al-Yamani, seorang sahabat Rasulullah SAW, seorang hafidh,
dan sahabat yang paling banyak dalam meriwayatkan hadits Nabi SAW, yang
tercatat sekitar 5374 hadits. Para ulama’ banyak yang berselisih mengenai
tentang nama aslinya dan nama ayahnya.[4] Namun
diantara perselihan tersebut yang paling masyhur ialah nama ‘Abdur Rahman bin
Sakhr,[5]
dan mengenai nama jahiliyahnya ialah Abdu Syams.[6] Nama
kunyahnya adalah Abu al-Aswad, Rasulullah menyebutnya ‘Abdullah dan
menjulukinya Abu Hurairah karena beliau suka membawa anak kucing (Hurroh)
kemana-mana. Dikatakan nama ibunya adalah Maimunah binti Sakhr.[7] Beliau
termasuk golongan sahabat Ahlu Shuffah.[8] Menurut
Imam Bukhari, beliau wafat pada tahun 58 H, namun ada juga yang mengatakan
beliau wafat pada tahun 59 H,[9] dan
ada yang 57 H di Madinah.[10]
Abu Hurairah meriwayatkan hadits atau berguru langsung kepada Nabi
SAW, selain itu, ia juga meriwayatkan hadits atau berguru kepada
sahabat-sahabat yang lain, seperti : Abu Bakar, ’Umar, al-Fadl bin ’Abbas bin
’Abdul Muthallib, Ubay bin Ka’ab, Usamah bin Zaid, ’Aisyah, Nadlroh bin Abi
Nadlroh al-Ghifari, dan Ka’ab al-Akhbar.[11] Imam Bukhari berkata mengenai Abu
Hurairah: --"Ada delapan ratus orang atau lebih (dari shahabat tabi'in dan ahli ilmu) yang meriwayatkan Hadits darinya"
Abu Nadlrah al-’Abdi dari at-Thafawi berkata: Saya tinggal dengan Abu
Hurairah di Madinah selama 6 bulan, maka aku tidak mendapati seorang laki-laki
dari kalangan sahabat Rasulullah SAW yang lebih arif/waspada dari pada Abu
Hurairah dan aku juga tak mendapati kelemahan(ingatan) darinya; dan Imam Syafi'i mengemukakan pula pendapatnya tentang Abu Hurairah: --
"la seorang yang paling banyak hafal di antara seluruh perawi Hadits
sesamanya".[12]
Oleh karena itu, ada banyak murid yang belajar atau
meriwayatkan hadis darinya , diantaranya: Abu Muslim, Sa’id Ibnul Musayyab,
Hafs Ibn ’Ashim, Hamid Ibn ’Abdir Rahman az-Zuhri, Khalas Ibn ’Amr, Salim Abul
Ghaits, Abu Hazim Salman al-Asyja’iyy, Sulaiman Ibn Yasar, Ikrimah,
’Urwah, ’Atho’, Mujahid Ibn Sirin dan lain sebagainya.[13]
Abu Hazim (w. 101 H)
Nama aslinya adalah Salman al-Asyja’iyy al-Kufi, nama kunyahnya adalah Abu
Hazim, sedangkan nama laqobnya adalah Shahib (teman) Abi Hurairah, namun beliau
lebih terkenal dengan nama Salman Maula ’Izzah.[14] Beliau
bermukim di Madinah dan Kufah, dan termasuk pertengahan dari kalangan tabi’in.
Beliau meninggal pada tahun 101 H,[15] atau
bertepatan pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul ’Aziz.
Beliau belajar atau meriwayatkan hadits dari: Hasan bin
’Ali bin Abi Thalib, Husain bin ’Ali bin Abi Thalib, Sa’id bin ’Ash, ’Abdullah
bin Zubeir, ’Abdullah bin ’Umar bin Khattab, Abu Hurairah (belajar
kepadanya selama 5 tahun) dan lain sebagainya. Adapun
murid-muridnya antara lain Salim bin Abi Hafshah, Abu Malik Sa’d bin
Thariq al-Asyja’iyy, Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Sulaiman al-A’masyi,
Harun bin Sa’d dan lain sebagainya.[16]
Furrah ibn Abdur Rahman
Nama lengkapnya adalah Furrah ibn Abi Abdur Rahman Al-Qazzaz atau dikenal
dengan nama Abu Muhammad.
Guru-guru beliau yaitu Abu Thufail, Abu Hazim Salman al-Asyja’iyy al-Kufi, Said ibn Jubair, Abdur
Rahman ibn Aswad ibn Yazid, dan Abdullah ibn Qibthiyat.
Sedangkan murid-murid beliau diataranya Syu’bah bin Hajjaj, Hasan ibn Furat, Ziyat ibn Hasan ibn Furrat,
Mas’ud, ‘Umar ibn Qayis, Umar ibn Abi Qayis ar-Razi, Syarik, Abu Al-Haushi.[17]
Syu’bah bin
Hajjaj (w. 160 H)
Nama lengkap beliau Syu’bah bin Hajjaj bin warad
Al Ataky, Abu Busthomi Al Wasathi, Ubadah bin Al-Araghi, Yazid bin Mahla. Lahir Pada tahun 82 H dan wafat pada
tahun 160
H di Bashroh adalah seorang tabi'in, ulama dan
syaikh yang berasal dari Basra. Beliau dinilai memiliki tingkat kepercayaan
yang paling tinggi yaitu Amir al-Mu’minin al-Hadits (Pemimpin
orang-orang beriman di bidang hadits) khususnya di Bashrah. Sehingga beliau
diposisikan paling tinggi dari pada Al-‘Amasyi dan Sufyan Ats-Tsauri.[18]
Adapun Guru-Gurunya: Aban bin Tughlab, Ibrahim bin Amir bin Mas’ud Al
Jamahi, Ibrahim bin Muslim Al-hajari, Ibrahim bin Muhajir, Ibrahim bin
Maisarah, Abi Ishaq, Hatim bin Abi Shaghirah, Ismail bin Sami’, Al Aswad bin
Qois, Asy’ats bin Suwar, Habib bin Abi Tsabit, Habib bin Zubair, Mansur bin
zadan, Muhajir Abi Hasan, Musa bin Abi Aisyah, Musa Bin Abi Utsman, Nu’man bin
Salim,
Adapun Murid Murid
beliau: Muhammad bin Ishaq bin Yasar,
Muhammad bin Bakr, Al Barsani, Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar, Muhammad
bin Abdullah al Anshori, Muslim bin Ibrahim, Walid bin Nafi’, Yahya bin Abi
Bakr, Wahab bin Jarir bin Hazim, Waqi’ bin Jarah, Musa bin Fadhil, Nadhar bin
Syamil, Abu Khalid Al-Akhmari, Yazid bin Harun.
Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar (w. 294 H)
Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Ja’far al-Huzli
atau Abu Abdullah al-Bashir Al Ghandar dan sebagian memanggilnya Abu Ja’far.
Beliau wafat pada tahun 294 H.
Guru –guru beliau adalah Abdullah ibn Sa’id ibn Abi
Hindi, Syu’bah bin Hajjaj, Auf al-A’rabi, Ma’mar bin Rasyid, Sa’id bin ‘Arubah, Husain
al-Mu’allama, Ibnu Juraih, Hisyam bin Hasan, ‘Ustman bin Giyants ats-Tsauri,
Ibnu ‘Uyainah.
Adapun murid-murid beliau diantaranya Ahmad bin Hambal, Ishaq, Yahya bin
Mu’in, Ali bin Al-Madini, Abu Bakr, ‘Utsman bin Abi Syaibah, Qutaibah, Ibrahim
bin Muhammad bin ‘Ur’urah, Abu Bakar bin Khallad, Ya’qub ad-Dauraqi, Muhammad
bin Ziyad, Abu Musa, Abu Bakar bin Nafi’ al-‘Abdi, ‘Abdullah al-Qawariri,
Muhammad bin Walid al-Bundar, Bundar (Muhammad
ibn Basyar ibn Utsman Al A’bdi, Abu bakar al-Hafidz al-Bashri Bundar), Muhammad bin ‘Umar bin Jabal, Bashri bin Khalid, Al-‘Askari, Ahmad bin
Abdullah bin Hakim, ‘Uqbah, ‘Abdullah bin Muhammad bin Al-Miswar Az-Zuhri.[19]
Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman (w. 252 H)
Nama lengkap:
Muhammad ibn Basyar ibn Utsman Al A’bdi, Abu bakar al-Hafidz al-Bashri Bundar.
Beliau lahir pada tahun 167 H dan wafat pada tahun 252 H.[20]
Beliau dilahirkan pada tahun dimana Himad bin Salamah wafat, yaitu pada tahun
67 Hijriyah. Dan beliau wafat pada bulan Rajab, tahun ke 252 Hijriyah.[21]
Guru-guru beliau
diantaranya Ibrahim ibn Umar ibn Abi Al Wazir, Azhar ibn Sa’ad Al Saman, Umayah
ibn Kholid, Badal ibn Mukhbar,Ja’far ibn Aun, Hijaj ibn Mihal, Muhammad ibn Ja’far Al Ghandar, Harmi
ibn Umarah, Kholid ibn Al Harits.[22]
Adapun murid-murid
beliau diantaranya Bukhori, Muslim,
Abu Daud, tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah,
Ibrahim ibn Ishaq, Ismail ibn Nufail Al Baghdadi Al Khilal, Ja’far ibn Ahmad As
Syamati, Zakaria ibn Yahya As Saj’I.[23]
D. Komentar Ulama
Abu Hazim
Adapun penilaian ulama terhadapnya antara lain: Imam
Ahmad, Ibn Ma’in dan Abi Daud: Tsiqah; Ibn Hibban memasukkanya dalam
golongan rawi yang tsiqah dalam kitabnya "Ats-Tsiqat"; Ibn Sa’d: Tsiqah, dan
menganggap hadits-haditnya baik.[24]
Furrah ibn Abdur Rahman
Mengenai
penilain Ulama terhadapnya Abu Hatim berkata hadits-haditsyang diriwayatkan Shahih,
Ibnu Hibban memasukkan dalam kitabnya at-Tsiqah, Sufyan berkomentar
bahwa beliau tsiqah.
Syu’bah bin
Hajjaj (w. 160 H)
Adapun komentar
para ulama terhadapnya tidak diragukan lagi misalkan, Ibnu Hajar mengatakan
beliau tsiqoh, Hafidz, dan bertaqwa. At-Tsauri berkata dia seorang Amir al-Mu’minin
al-Hadits
(Pemimpin orang-orang beriman di bidang hadits),Menurut Dhahabi: Amirul mukminin di bidang Hadits, Tsabit Hujjah, dan
sedikit salah di namanya.[25]
Begitu banyak sanjungan para Ulama terhadapnya sehingga penulis hanya
mencantumkan sebagian saja.
Muhammad bin Ja’far Al-Ghandar
Mengenai keredibilitas rawi ini Ibnu Hibban memasukkannya sebagai rawi
yang tsiqah dalam kitabnya at-Tsiqah.[26]
Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman (w. 252 H)
Dalam kitab Maghaniy al-Akhyar, dikatakan
bahwa ia perawi yang tsiqah. Ibnu ‘Ajaly berkata:” Ia tsiqah, banyak
hadits yang diriwatkannya.[27] Menurut
Maslamah bin Qasim ia tsiqah, dan menurut al-Daraquthni
ia adalah al-hafidh al-atsbat.[28]
E.
Takhrij Hadits
Dalam kutub
tis’ah mengenai hadis di atas dapat ditakhrij sebagai berikut;
a.
Dalam
Shahih Bukhari terdapat pada kitab Ahadits al-Anbiyah (Hadits-Hadits
yang meriwayatkan tentang para Nabi), bab Bani Israil nomor 3400.[29]
b.
Dalam
shahih Muslim terdapat pada, kitab Al-Imarah (Kepemimpinan) bab Wujuba
al-Wafaau Bay’at al-Khilafah al-Awalan (Wajibnya memenuhi isi bay’at), hadits nomor 1842.[30]
c.
Dalam
Ibnu Majah terdapat dalam kitab al-Jihad (Jihad) bab al-Wafaau
al-Bay’at, (Wajibnya memenuhi isi
bay’at),. nomor hadits 2862.[31]
d.
Dalam
Musnad Ahmad terdapat dalam kitab Musnad Sahabat yang banyak meriwayatkan
hadits, bab Musnad Abu Hurairah Radhiallahu‘anhu nomor hadits 7619.[32]
e.
Hadis ini juga diriwayatkan di dalam Shahih Ibn Hibban; Musnad Abi ‘Awanah; Sunan al-Kubra al-Bayhaqi; Mushannaf Ibn Abi Syaybah; Musnad Ishhaq Ibn Rahawayh; Musnad Abi Ya’la
al-Mûshili; Musnad li al-Khalal oleh Abu Bakar al-Khalal;
dan di dalam as-Sunah li Ibn Abi ‘Ashim.[33]
F.
Syarah Matan
Hadits
Kata tasûsu berasal dari sâsa-yasûsu-siyâsah. Menurut Ibn Manzhur dalam
Lisân al-‘Arab, sâsa al-amr siyâsah bermakna: qâma bihi (melaksanakan amanah). Menurut
As-Suyuthi, Abdul Ghani dan Fakhr al-Hasan ad-Dahlawi dalam Syarh Sunan Ibn
Mâjah, as-siyâsah adalah riyâsah wa ta’dîb ‘alâ ar-ra’iyah
(kepemimpinan dan pendidikan terhadap rakyat). Secara bahasa, siyâsah
maknanya ra’â syu’ûnahu (memelihara urusan-urusannya). Dengan demikian
as-siyâsah (politik) maknanya ri’âyah syu’ûn al-ummah (pengaturan dan
pemeliharaan urusan-urusan umat).
كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ
Kanat banû
isrâ‘îla tasûsuhum al-anbiyâ’. Menurut Ibn Hajar al-‘Ashqalani di dalam Fath
al-Bari, frasa ini bermakna, “Jika tampak di tengah mereka kerusakan, Allah SWT
mengutus seorag nabi yang meluruskan dan mengatur urusan mereka dan
menghilangkan hukum Taurat yang telah mereka ubah. Didalamnya ada isyarat bahwa
harus ada orang yang mengurusi urusan-urusan rakyat, membimbing mereka pada
kebaikan dan memberikan keadilan kepada orang yang dizalimi dari orang yang
zalim.”[34]
Menurut Imam
an-Nawawi dalam Syarh Shahîh Muslim, makna frasa itu adalah bahwa para nabi
mengurusi urusan mereka seperti yang dilakukan oleh para amir dan wali terhadap
rakyat. As-Siyâsah (politik) adalah mengatur sesuatu dengan apa yang membuat
sesuatu itu menjadi baik.[35]
Nabi saw. juga
menjalankan peran politik ri’ayah asy-syu’un, yaitu memelihara dan mengatur
urusan-urusan umat sebagaimana nabi-nabi Bani Israel. Bahkan Nabi saw. termasuk
di antara sedikit nabi yang diistimewakan. Ini karena selain menjabat kenabian,
beliau pun menjadi penguasa yang melakukan ri’ayah asy-syu’un secara praktis.
وَإِنَّهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي
Wa innahu lâ
nabiyya ba’di. Ini menegaskan bahwa kenabian sudah diputus oleh Allah SWT.
Rasul saw merupakan penutup para nabi. Karena itu, siapa saja yang mengklaim
kenabian dalam bentuk apapun adalah pendusta.
Karena tidak
ada nabi sesudah beliau, muncul pertanyaan, “Lalu siapa yang memelihara urusan
umat?” Pertanyaan itu juga ditanyakan oleh para Sahabat. Dalam riwayat Abu
‘Awanah dalam Musnad-nya, Ibn Majah dalam Sunan-nya dan Ibn Abi Syaibah dalam
Mushannaf-nya, para Sahabat bertanya, “fa mâ yakûnu yâ Rasûlallâh (Apa yang
akan ada, ya Rasulullah)?” Jawab Rasul saw., “wa sayakûnu khulafâ’u fa
yaktsurûn.”[36]
Jadi, Rasul
saw. telah menjelaskan bahwa yang akan memelihara dan mengatur urusan kaum
Muslim sepeninggal Rasul adalah para khalifah yang terus berganti hingga
jumlahnya banyak.
Syaik Abdul
Qadim Zallum di dalam Afkâr Siyâsiyah menjelaskan, “Mafhum sabda Nabi saw. itu,
bahwa selain amir bukanlah penguasa dan bahwa selain khalifah tidak boleh
menjalankan peran politik secara praktis terhadap rakyat. Hadis ini adalah
dalil bahwa pengaturan dan pemeliharaan (siyâsah/ri’âyah syu’ûn) rakyat secara
praktis hanyalah wewenang penguasa dan bukan selain penguasa. Ini adalah salah
satu dalil—selain dalil-dalil lainnya—atas pembatasan kekuasaan dan ri’ayah
rakyat hanya oleh penguasa, yaitu khalifah dan orang yang mewakili dia, atau
amir dan orang yang mewakili dia. As-Sulthân adalah ri’âyah syu’ûn secara
mengikat dan memaksa. Artinya, pelaksanaan tanggung-jawab penguasa hanya oleh
penguasa. Siapapun selain penguasa tidak boleh melaksanakan tugas ini. Pasalya,
syariah telah memberikan hak itu hanya kepada Khalifah dan orang yang mewakili
dia. Orang lain—siapapun dia—yang melakukan tugas penguasa dan ri’âyah syu’ûn
terhadap rakyat—adalah menyalahi syariah sehingga batil. Setiap tindakan batil
adalah haram. Jadi selain Khalifah dan orang yang ditunjuk Khalifah, yakni
selain penguasa, tidak boleh (haram) melakukan aktivitas pemerintahan dan
kekuasaan serta ri’âyah syu’ûn secara mengikat dan memaksa.”[37]
فُوا بِبَيْعَةِ اْلأَوَّلِ فَاْلأَوَّلِ
Fû bibay’ati
al-awwal fa al-awwal. Imam an-Nawawi menjelaskan, maknanya adalah “Jika dibaiat
seorang khalifah setelah pembaitan khalifah sebelumnya, maka baiat pertama
adalah sahih dan wajib dipenuhi, sedangkan baiat kedua adalah batil dan haram
dipenuhi; haram pula menuntut khilafah itu, baik diakadkan untuk yang kedua
oleh mereka yang mengetahui baiat yang pertama ataupun tidak tahu; baik di dua
negeri atau di satu negeri, atau yang satu di negeri imam yang terpisah dan
yang lain di negeri lainnya. Inilah yang benar, yang menjadi pendapat ashhab
kami dan jumhur ulama.”[38]
Jadi, khalifah
itu harus satu dan haram lebih dari satu. Bahkan dalam riwayat Imam Muslim
dinyatakan: “fa [u]qtulû al-âkhira minhumâ (maka bunuhlah yang terakhir dari
keduanya).”
أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ
A’thûhum
haqqahum, yakni taati mereka dan bergaul dengan mereka dengan mendengar dan
taat, karena Allah SWT akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang
mereka lakukan terhadap kalian, tentu selama tidak memerintahkan kemaksiatan.
Dalam hal ini ada rincian di dalam syariah.[39]
G.
Kualitas Sanad
Sanad Hadis Imam Muslim di atas adalah: Muhammad bin Basyar bin ‘Utsman, Muhammad
bin Ja’far, Syu’bah bin al-Hajjaj, Furrah bin ‘Abdur Rahman, Salman Maulah
Izzah dan Abdur Rahman bin Shakhar. Maka semua
sanad itu dikatakan muttasil (Bersambung) dalam hubungan guru dan murid
dan seluruh rawinya yaitu dari Abdur
Rahman bin Shakhar sampai kepada Mukharrij (Bukhari
dan Muslim) merupakan rawi yang tsiqah. Hadis ini juga tidak bertentangan
dengan hadis lain yang lebih kuat (syadz) dan tidak dijumpai adanya ‘illat.
Jadi,
penulis menyimpulkan bahwa kualitas sanad hadis tersebut ialah sahih dan
tergolong hadits muttafaq ‘alaihi [متفق عليه], artinya
diriwayatkan Bukhari & Muslim.
H.
Kualitas Matan
Penelitian
matan hadis telah dirintis pada masa Nabi saw dan para sahabatnya. M.M Azami
mensinyalir bahwa penelitian hadis sejak awal sampai sekarang menggunakan dua
metode, yakni metode muqaranah dan mu‘aradhah. Muqaranah adalah
metode perbandingan antar riwayat hadis yang sama, sedangkan mu‘aradhah adalah
perbandingan riwayat hadis dengan dalil yang lain.[40]
Dalam
melakukan penelitian hadis tidak terlepas dari kaidah-kaidah penelitian. Kaidah
kesahihan matan ada dua yaitu: terhindar dari syuz}uz}dan terhindar dari
‘illah, kaidah ini merupakan manifestasi dari dua metode yang disebutkan
di atas.[41]
Mengenai
kualitas matan dari hadis tersebut dinilai shahih atau bisa dijadikan patokan
karena sudah diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, secara umum kedua kitab ini
dinilai sebagai kitab tershahih setelah al-Qur’an.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari uraian diatas penelitian
sanad dan matan hadis tentang kewajiban bay’at dimana
setelah Penulis melakukan takhrij, terdapat di beberapa kitab –
kitab dalam kutub tis’ah yaitu;
Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Ibnu Majah dan Musnad bin Hambal, sehingga
dapat dikatan bahwa hadits tersebut tergolong hadits ahad (sejauh
penelitian penulis terhadap kutub tis’ah)., dan masuk sebagai hadits mutafaqun
‘alaih yaitu hadits yang disepakati Bukhari-Muslim.
Sedangkan pada kualitas sanad
dan matan hadis diatas dinilai hadits shahih berdasarkan
urutan-urutan sanadnya yang bersambung (muttasil) dan periwayat hadis
tersebut adalah Bukhari dan Muslim karena secara umum kedua periwayat ini kitab
nya adalah dinilai sebagai kitab tershahih setelah al-Qur’an.
B.
Saran
Setelah penulis melakukan penelitian hadits tersebut, hal ini tentu
menjadi kesyukuran penulis karna telah menyelesaikan amanah yang dibebankan
selaku kewajiban penulis sebagai mahasiswa atau murid. Dari penelitian tersebut
penulis banyak mendapatkan kesulitan-kesulitan, termasuk di dalamnya memahami
kitab-kitab hadits yang berbahasa arab, karna keterbatasan kemampuan membaca
kitab yang berbahasa arab. Namun atas usaha dan keistiqamahan akhirnya
penelitian tersebut selesai dan memuaskan. Adapun pembaca yang budiman
menemukan kesalahan dalam penelitian tersebut, tentu adalah bukti
ketidaksempurnaan penulis selaku manusia, dan sebagai harapan semoga itu bisa
menyempurnakan pembahasan di dalamnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Asqalani,
Al-Hafiz Ahmad bin Ali bin Hajar, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari,
Juz VIII, Birut: Darul Fikr, 2002
Al-‘Asqolani, Al-Hafiz
Ahmad bin Ali bin Hajar,
Tahdzibut Tahdzib Juz II, Bairut; Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
-----------------------------------------, Tahdzibut Tahdzib, Juz III Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
-----------------------------------------,
Tahzibu at-Tahzib, Juz VI, Beirut; Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994
Al-Syuthi, Jala
al-Din Abd ar-Rahman bin Abi Bakr, Al-Jami’ Al-Shaghir fi Ahadits al-Basyir
wa al-Nadzir, Bairut; Al-Islamiyyah: 3771 H
Al-Khalildi,
Mahmud ‘Abd Al-Majid, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, yang
terjemahkan oleh Harits Abu Ulya,Pilar-Pilar
Sistem Pemerintahan Islam, Cet. I; Bogor: Al-Azhar Press, 2014
An-Nawawi, Al
Imam Al Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I, Syarah Shahih
Muslim, Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001
Amin, Phil. H.
Kamaruddin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits, Cet. I; PT.
Mizan Publik: Jakarta Selatan, 2009
Al-Qazwaini
Ibnu Majah, Abu Adillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibnu Majah, Dar
Al-Maktab al-Ma’arif, 1417 H
Hanbal,
Ahmad bin Muhammad bin, Musnad bin Hambal,
Dar Fikr; Baerut, t.t.
Juynboll, G. H.
A., Tiori Common Link, Cet. I; LKIS Yogyakarta: Yogyakarta, 2007
Rajab, Kaidah
Kesahihan Matan Hadis, Cet. I; Yogyakarta: Grha Guru, 2011
Software Mausu’ah al-Hadits
al-Syarif versi 2,00 (Global Islamic Software
Company, 1991-1997)
Software Gwami’ El Kalem versi 4.5,
edisi II, UEA: Awqaf, t.th
Software Mausu’ah al-Hadits
al-Syarif versi 2,00 Global Islamic Software Company,
1991-1997
Zallum, Abdul
Qadim, Pemikiran-Pemikiran Politik, Cet. I; Pustaka Thariqul Izzah, 2001
Internet
http://pustakaimamsyafii.com-biografi-abu-hurairah-ra-html. Dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkirotul Huffadh, Juz
I (tk: Dar al-Shomi’i), h.. 32.
http://madciel.blogspot.co.id contoh penelitian rijal al-hadits, dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadh. Juz
I., op.cit., h. 32.
https://fahadiel.wordpress.com,analisis-para-perawi-hadits diakses pada tanggal 24/4/2017 dikutip dalam kitab Maghoniyul Akyar Juz III h. 551, dan Kitab Tahdzib al-Tahdzib, Juz IX pada
Biografi Muhammad bin Mutsanna.
http://neopluck.blogspot.co.id/2013/03/Pengertian-Politik-Islam-Arti-Politik-Menurut-Islam. Di akses pada tanggal 25/4/2017
[1] Jala al-Din
Abd ar-Rahman bin Abi Bakr al-Syuthi, Al-Jami’ Al-Shaghir fi Ahadits
al-Basyir wa al-Nadzir, (Bairut; Al-Islamiyyah: 3771), h. 824
[2] Al-Hafiz Ahmad
bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz
VIII, (Birut: Darul Fikr, 2002), h. 93
[3] Mahmud ‘Abd
Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, yang
terjemahkan oleh Harits Abu Ulya,Pilar-Pilar
Sistem Pemerintahan Islam, (Cet. I; Bogor: Al-Azhar Press, 2014), h. 158
[4] Ibn
Hajar al-‘Asqolani, Tahdzibut Tahdzib (tk: Muassasah at-Tarikh
al-‘Arabi), juz 6, hlm., 508.
[5] Mahmud ‘Abd
Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam, op.cit.h. 158
[6] http://pustakaimamsyafii.com, Biografi Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkirotul
Huffadh, Juz I (tk: Dar al-Shomi’i), h.. 32.
[8] http://pustakaimamsyafii.com, Biografi
Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Ibnul
Atsir al-Hizri, Asdul Ghabah (tk: Dar al-Ma’rifah, 1997), juz.
5, h. 119.
[9] http://pustakaimamsyafii.com, Biografi
Abu Hurairah ra. html dikutip dalam kitab Ibn
Abi Hatim ar-Razi, At-Ta’dil wat- Tajrih (tk: Dar al-Fikr),
juz. 1. h. 664.
[12] Muhammad
bin Thahir bin al-Qaisaroni, Tadzkiratul Huffadh (Riyadl: Dar
al-Shami’I, 1415 H), juz 1, hlm. 33, 35 dan 36.
[13] http://madciel.blogspot.co.id,
contoh penelitian rijal al-hadits, dikutip dalam kitab Adz-Dzahabi, Tadzkiratul Huffadh. Juz
I., op.cit., h. 32.
[16] http://madciel.blogspot.co.id, contoh penelitian rijal al-hadits, di akses pada
tanggal 3/2/17, yang dikutip dalam kitab Abu
al-Hajjaj, Tahdzibul Kamal (tk: Dar al-Fikr), juz 7, hlm. 60.
[18] Phil. H.
Kamaruddin Amin, Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadits, (Cet.
I; PT. Mizan Publik: Jakarta Selatan, 2009), h. 127
[19] Al-Hafiz Ahmad
bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, (Beirut;
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994), h. 531
[20] Al-hafiz Ahmad
bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, (Beirut;
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah , 1994), hlm. 519
[21] Maghaniyul Akhyar Juz III/Hal. 539
[22] Ibid.,
[23] Ibid.,
[25] G. H. A.
Juynboll, Tiori Common Link, (Cet. I; LKIS Yogyakarta: Yogyakarta,
2007), h. 193
[26] Al-Hafiz Ahmad
bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III,op.cit.
h. 519
[27] https://fahadiel.wordpress.com,analisis-para-perawi-hadits, diakses pada
tanggal 24/4/2017 dikutip dalam kitab Maghoniyul
Akyar Juz III h. 551, dan Kitab Tahdzib
al-Tahdzib, Juz IX pada Biografi Muhammad bin Mutsanna.
[28] Al-Hafiz Ahmad
bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Tahzibu at-Tahzib: Jilid III, op.cit.
h. 531
[29] Al-Hafiz Ahmad
bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathulbari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz
VIII, (Birut: Darul Fikr, 2002), h. 93
[30] Al Imam Al
Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I an-Nawawi, Syarah Shahih
Muslim, (Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001), h. 1193
[31] Abu Adillah
Muhammad bin Yazid al-Qazwaini, Sunan Ibnu Majah, (Dar Al-Maktab
al-Ma’arif, 1417 H), h. 485
[32] Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad bin Hambal, (Dar Fikr;
Baerut, t.t.), h. 594
[33] Mahmud ‘Abd
Al-Majid al-Khalildi, Qawa’id Nizham al-Hukm fii al-Islam,op.cit, h. 159
[34] Al-Hafiz Ahmad
bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz
VIII,op.cit., h. 97
[35] Al Imam Al
Hafidz Muhammad bin Zakariya bin Syaraf Asy-Syafi’I an-Nawawi, Syarah Shahih
Muslim, (Dar Al-Maktab al-Ma’arif, 2001), h. 1193
[36] http://neopluck.blogspot.co.id/2013/03/Pengertian-Politik-Islam-Arti-Politik-Menurut-Islam. Di akses pada
tanggal 25/4/2017
[37] Abdul Qadim
Zallum, Pemikiran-Pemikiran Politik, (Cet. I; Pustaka Thariqul Izzah,
2001), h. 34
[38] Al-Hafiz Ahmad
bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bari’ Syarah Shahihul Bukhari, Juz
VIII,op.cit.,
[39] Ibid.,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Mohon